Analisis Empiris untuk Menyelidiki Hubungan antara Ekonomi Berbagi Digital dan Kepercayaan Digital
Penulis: Imdadullah Hidayat-ur-Rehman, Hazal Koray Alay, Meri Taksi Deveciyan, Fahim Akhter, dan Saeed Alzahrani
Jurnal: Future Business Journal (2026), Vol. 12, Artikel 12.
Abstrak
Penelitian ini mengkaji ekonomi berbagi digital (digital sharing economy), yaitu suatu model ekonomi ketika platform daring memfasilitasi pertukaran aset dan layanan, seperti akomodasi dan penyewaan kendaraan, sekaligus menghadirkan berbagai tantangan yang berkaitan dengan kepercayaan.
Penelitian ini berupaya menjawab pertanyaan:
Faktor-faktor apa saja yang memengaruhi kepercayaan digital konsumen terhadap platform ekonomi berbagi dan penyedia layanan, serta bagaimana kepercayaan tersebut memengaruhi niat konsumen untuk berpartisipasi dalam layanan ekonomi berbagi digital?
Berdasarkan kajian literatur yang komprehensif, penelitian ini mengembangkan model konseptual mengenai kepercayaan digital dengan memasukkan peran inovasi terbuka (open innovation).
Data survei diperoleh dari 387 responden di Arab Saudi dan dianalisis menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa:
- Jaminan struktural (structural assurance),
- Kompetensi (competence),
- Kebajikan/kepedulian (benevolence),
- Integritas (integrity), dan
- Familiaritas/pengenalan sebelumnya (familiarity)
memiliki peran penting dalam membentuk kepercayaan konsumen terhadap platform maupun penyedia layanan.
Selanjutnya, kepercayaan terhadap platform dan penyedia layanan tersebut secara signifikan memengaruhi niat konsumen untuk menggunakan layanan ekonomi berbagi digital.
Penelitian juga menemukan bahwa tingkat kepercayaan digital berbeda berdasarkan kelompok usia dan jenis kelamin.
Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap literatur dengan memperjelas faktor-faktor pembentuk dan konsekuensi dari kepercayaan digital dalam ekonomi berbagi digital. Penelitian ini juga memberikan implikasi praktis bagi pembuat kebijakan dan pengelola platform dalam membangun kepercayaan serta mendorong partisipasi pengguna secara berkelanjutan.
1. Pendahuluan
Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi telah mengubah secara mendasar cara individu berinteraksi, melakukan konsumsi, dan menciptakan nilai.
Kemunculan Web 2.0, yang sering disebut sebagai sebuah revolusi sosial, telah mengubah pola interaksi sosial melalui keterlibatan yang bersifat partisipatif, interaktif, dan berbasis jaringan.
Perkembangan tersebut juga mengubah pola konsumsi. Konsumen tidak lagi hanya berperan sebagai penerima pasif, tetapi semakin aktif terlibat dalam proses penciptaan nilai.
Dengan demikian, teknologi digital tidak hanya menyederhanakan kehidupan sehari-hari dan aktivitas bisnis, tetapi juga mendorong munculnya model ekonomi baru yang berlandaskan:
- kolaborasi,
- akses,
- berbagi sumber daya, dan
- penciptaan nilai bersama.
Salah satu hasil paling penting dari transformasi tersebut adalah munculnya ekonomi berbagi (sharing economy).
Ekonomi Berbagi
Ekonomi berbagi muncul sebagai respons terhadap semakin terbatasnya sumber daya serta meningkatnya kebutuhan terhadap pola konsumsi yang lebih berkelanjutan.
Berbeda dengan konsumsi yang berorientasi pada kepemilikan, ekonomi berbagi menekankan penggunaan bersama atas barang, layanan, dan keterampilan.
Botsman dan Rogers mendefinisikan ekonomi berbagi sebagai model ekonomi yang memungkinkan pemanfaatan aset-aset yang kurang dimanfaatkan (underused assets) melalui pertukaran antarpengguna atau peer-to-peer (P2P).
Dengan berkembangnya teknologi digital, konsep tersebut kemudian berkembang menjadi ekonomi berbagi digital.
Ekonomi berbagi digital dicirikan oleh pertukaran yang dimediasi oleh platform digital dan difasilitasi melalui teknologi internet serta perangkat seluler. Platform tersebut memungkinkan individu maupun organisasi untuk:
- berbagi barang,
- menyewakan barang,
- menukar barang,
- menyediakan layanan,
- menggunakan layanan pihak lain.
Sektor yang menggunakan model ini antara lain:
- transportasi,
- akomodasi,
- jasa personal, dan
- berbagai bentuk layanan lainnya.
2. Pentingnya Kepercayaan Digital
Platform ekonomi berbagi digital merupakan sistem sosio-teknis yang kompleks. Platform menghubungkan mekanisme pasar tradisional dengan praktik berbagi yang sebelumnya berlangsung secara informal.
Platform mengintegrasikan:
Infrastruktur teknologi + interaksi sosial + mekanisme koordinasi
sehingga membentuk ekosistem interaktif di mana berbagai pihak dapat bersama-sama menciptakan dan menangkap nilai.
Namun, keberhasilan platform sangat bergantung pada kesediaan pengguna untuk berinteraksi dengan pihak yang belum mereka kenal dalam lingkungan digital.
Di sinilah kepercayaan (trust) menjadi sangat penting.
Kepercayaan merupakan faktor utama yang memungkinkan transaksi berbasis platform berlangsung, khususnya ketika terdapat:
- ketidakpastian,
- asimetri informasi,
- risiko yang dirasakan,
- ketidakjelasan identitas,
- kekhawatiran terhadap keamanan data.
Pengguna tidak hanya harus mempercayai platform digital, tetapi juga harus mempercayai:
- penyedia layanan,
- pengguna lain,
- mekanisme kelembagaan,
- sistem keamanan data,
- transparansi platform, dan
- mekanisme akuntabilitas.
3. Konsep Kepercayaan Digital
Penelitian sebelumnya banyak membahas kepercayaan sebagai konsep umum atau interpersonal dan sering memperlakukannya sebagai konstruk satu dimensi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan yang berbeda dengan melihat kepercayaan digital sebagai konstruk multidimensi.
Kepercayaan digital mencakup kepercayaan terhadap:
Platform digital
↓
Penyedia layanan
↓
Niat menggunakan layanan
Model penelitian menggunakan integrative model of organizational trust dari Mayer, Davis, dan Schoorman.
Dalam model tersebut, kepercayaan dipengaruhi oleh tiga dimensi utama:
- Kompetensi (ability/competence)
- Benevolence
- Integrity
Penelitian ini kemudian memperluas model tersebut dengan memasukkan:
- Structural assurance
- Familiarity
4. Ekonomi Berbagi Digital
Ekonomi berbagi digital didefinisikan sebagai sistem alokasi sumber daya yang diorganisasi melalui platform digital daring untuk memberikan akses kepada individu maupun organisasi terhadap sumber daya material maupun nonmaterial.
Platform digital menjembatani antara:
Ekonomi berbagi tradisional ↔ Ekonomi pasar
Perkembangan teknologi digital memungkinkan individu dan organisasi terhubung dalam ekosistem interaktif untuk:
Create → Exchange → Capture Value
atau:
Menciptakan → Menukar → Menangkap Nilai
Penelitian membagi ekonomi berbagi digital ke dalam tiga aspek utama:
| Aspek | Penjelasan |
|---|---|
| Technical | Kemampuan teknologi memungkinkan sumber daya digunakan atau dibagikan oleh banyak pengguna |
| Social | Interaksi antarmanusia, termasuk transaksi ekonomi |
| Coordination | Platform digital bertindak sebagai perantara yang mengorganisasi dan mengelola proses berbagi |
Dengan demikian:
Aspek teknis berhubungan dengan sumber daya, aspek sosial berhubungan dengan manusia, sedangkan aspek koordinasi berhubungan dengan platform digital.
5. Kepercayaan Digital dalam Ekonomi Berbagi
Penelitian menempatkan kepercayaan sebagai salah satu elemen fundamental dalam ekonomi berbagi.
Secara sederhana:
Tanpa kepercayaan → transaksi digital sulit berlangsung
Kepercayaan membantu mengubah kondisi:
Ketidakpastian → Kejelasan
dan:
Risiko yang dirasakan → Keamanan
Platform ekonomi berbagi membutuhkan mekanisme yang mampu membangun kepercayaan antara pengguna dan penyedia layanan.
Contoh mekanisme pembangun kepercayaan antara lain:
- verifikasi identitas pengguna,
- sistem rating dan review,
- keamanan data,
- transparansi transaksi,
- penyelesaian sengketa,
- kebijakan pengembalian dana,
- perlindungan konsumen,
- customer support,
- reputasi platform.
Penelitian juga menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap platform dapat berpengaruh terhadap kepercayaan terhadap penyedia layanan.
6. Model Penelitian
Model penelitian pada Gambar 1 halaman 8 menunjukkan hubungan antara faktor-faktor pembentuk kepercayaan digital dengan niat menggunakan layanan ekonomi berbagi digital.
Strukturnya dapat dituliskan sebagai berikut:
Structural Assurance │ ▼ Digital Trust in Platform ───────┐ ▲ │ │ ▼ Competence Intention to Use Benevolence Digital Sharing Integrity Economy Services │ ▲ ▼ │ Digital Trust in │ Service Provider ──────────────┘ ▲ │ Familiarity
Variabel penelitian
| Kode | Variabel | Bahasa Indonesia |
|---|---|---|
| SA | Structural Assurance | Jaminan Struktural |
| COM | Competence | Kompetensi |
| BEN | Benevolence | Kebajikan/Kepedulian |
| INT | Integrity | Integritas |
| FAM | Familiarity | Familiaritas |
| DTP | Digital Trust in Platform | Kepercayaan Digital terhadap Platform |
| DTSP | Digital Trust in Service Provider | Kepercayaan Digital terhadap Penyedia Layanan |
| IUDSES | Intention to Use Digital Sharing Economy Services | Niat Menggunakan Layanan Ekonomi Berbagi Digital |
Model tersebut mengajukan H1 sampai H7 untuk menguji hubungan antarvariabel.
7. Metodologi Penelitian
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei.
Data dikumpulkan dari pengguna layanan ride-hailing di Arab Saudi. Dari 403 respons yang dikumpulkan, sebanyak 16 respons tidak lengkap dan dikeluarkan dari analisis sehingga tersisa 387 respons valid.
Instrumen menggunakan skala Likert 1–5.
Analisis dilakukan menggunakan:
- SPSS 23
- SmartPLS 4.0
- PLS-SEM
PLS-SEM dipilih karena data tidak berdistribusi normal dan model memiliki struktur hubungan yang relatif kompleks.
8. Hasil Utama
Model menunjukkan bahwa:
- R² DTP = 0,491
- R² DTSP = 0,296
- R² IUDSES = 0,515
Artinya, model menjelaskan sekitar 51,5% variasi niat menggunakan layanan ekonomi berbagi digital.
Nilai effect size juga menunjukkan bahwa hubungan Digital Trust in Platform → Intention to Use Digital Sharing Economy Services memiliki nilai f² = 0,498, sedangkan Digital Trust in Service Provider → Intention to Use memiliki f² = 0,165.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar