| No. | Referensi | Relevansi untuk penelitian |
|---|---|---|
| 1 | Hasan, F. & Darwanto, D. H. (2013). “Prospek dan Tantangan Usahatani Tembakau Madura.” SEPA: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, 10(1). | Sangat relevan untuk menjelaskan posisi petani Madura, sistem pemasaran, produktivitas, pendapatan, dan bargaining position. Penulis juga mengusulkan diversifikasi produk dan penguatan kelembagaan. (Jurnal UNS) |
| 2 | Nurfadilla, S. (2025). “Geostrategi Pertanian Tembakau di Madura: Dinamika Kualitas Tembakau dan Akses Ekonomi.” Maliki Interdisciplinary Journal, 3(5), 1848–1855. | Sangat relevan untuk variabel akses pasar, akses modal, informasi, kualitas tembakau, dan posisi tawar petani. Studi menemukan bahwa perdagangan yang dikontrol tengkulak dapat melemahkan bargaining position petani. (Jurnal Penelitian Sarjana) |
| 3 | Nur, Y. H. & Salim, Z. (2014). “Daya Saing Tembakau Virginia Lokal: Analisis Rantai Nilai.” Jurnal Ekonomi dan Pembangunan, 22(1), 15–24. | Salah satu referensi paling penting secara metodologis karena secara eksplisit menggunakan Value Chain Analysis (VCA) untuk melihat keterkaitan dalam rantai tembakau Indonesia. (Ejournal BRIN) |
| 4 | Syaiful, S., Kasanova, R. & Hasaniyah, A. (2019). “Pengaruh Tata Niaga Tembakau dan Alternatif Pengganti Tembakau bagi Petani di Pamekasan.” KABILAH: Journal of Social Community, 4(1). | Relevan untuk membahas tata niaga, harga, monopoli/perantara, posisi tawar petani, dan ketergantungan ekonomi petani tembakau di Pamekasan. (E-Journal Kopertais IV) |
| 5 | Fajar, A. & Maulidah, S. (2021). “Fluktuasi Harga dan Kesejahteraan Petani Tembakau Madura.” JURNAL SOSIAL, 22(1). | Penting untuk bagian kesejahteraan komunitas, khususnya hubungan antara fluktuasi harga tembakau dan ketidakpastian ekonomi petani Madura. (Sosial Unmer Madiun) |
| 6 | Dwi, M. & Mulyono, I. (2023). “Analisis Nilai Tambah Tembakau Maesan I (Nicotiana tabacum L.) di Desa Pekalangan Kecamatan Tenggarang Kabupaten Bondowoso.” FORAGRI, 3(2), 64–71. | Berguna untuk metode analisis nilai tambah, karena penelitian menghitung pendapatan, nilai tambah per kg, dan rasio nilai tambah pada usaha tembakau. (Jurnal Universitas Bondowoso) |
| 7 | Prowse, M. & Moyer-Lee, J. (2014). “A Comparative Value Chain Analysis of Smallholder Burley Tobacco Production in Malawi – 2003/4 and 2009/10.” Journal of Agrarian Change, 14(3), 323–346. | Sangat bagus sebagai pembanding internasional mengenai petani kecil, struktur pasar, pedagang, kontrak, regulasi, dan perubahan distribusi manfaat dalam rantai tembakau. (Wiley Online Library) |
| 8 | Gereffi, G., Humphrey, J. & Sturgeon, T. (2005). “The Governance of Global Value Chains.” Review of International Political Economy, 12(1), 78–104. | Referensi teori penting untuk menjelaskan siapa yang memiliki kekuasaan dalam rantai nilai, bagaimana transaksi dikendalikan, dan bagaimana posisi tawar antaraktor terbentuk. (Taylor & Francis Online) |
| 9 | Humphrey, J. & Schmitz, H. (2002). “How Does Insertion in Global Value Chains Affect Upgrading in Industrial Clusters?” Regional Studies, 36(9), 1017–1027. | Sangat relevan dengan konsep hilirisasi lokal/upgrading: apakah masuknya pelaku lokal ke tahapan pengolahan dan pemasaran memungkinkan peningkatan kemampuan dan nilai yang tertahan di daerah. (DOI) |
| 10 | Suwanmaneepong, S. et al. (2024). “Participatory Value Chain Development: Insights from Community-Based Enterprise in Rural Thailand.” | Relevan untuk menghubungkan value chain dengan ekonomi komunitas, terutama kolaborasi stakeholder, penciptaan nilai, inklusi komunitas, keberlanjutan, dan pengembangan usaha berbasis komunitas. (DOI) |
| No | Artikel | Fokus Utama | Relevansi untuk Penelitian Anda |
|---|---|---|---|
| 1 | Gibson-Graham, J.K. (2005). “Surplus Possibilities: Postdevelopment and Community Economies.” Singapore Journal of Tropical Geography, 26(1), 4–26. | Community economies, surplus, alternatif ekonomi | Landasan teoritis untuk melihat ekonomi tidak hanya dari profit tetapi dari bagaimana surplus ekonomi digunakan dan didistribusikan. (Wiley Online Library) |
| 2 | Gibson-Graham, J.K. (2008). “Diverse Economies: Performative Practices for ‘Other Worlds’.” Progress in Human Geography, 32(5), 613–632. | Diverse economies dan praktik ekonomi alternatif | Membantu menjelaskan bahwa ekonomi komunitas terdiri dari berbagai bentuk aktivitas ekonomi yang sering tidak terlihat dalam statistik ekonomi mainstream. (Sage Journals) |
| 3 | Jamal, A.C. & Gordon, R. (2024). “Grappling with Governance: Emerging Approaches to Build Community Economies.” Journal of Rural Studies, 107, 103242. | Tata kelola ekonomi komunitas | Sangat relevan untuk menganalisis institusi, governance, kolaborasi, dan peran masyarakat dalam membangun ekonomi lokal. (ScienceDirect) |
| 4 | Jamal, A. & Scholten, J. (2025). “Deployment and Development of Community Wealth Building in Canadian Mid-sized Cities.” Community Development Journal, 60(3), 470–488. | Community Wealth Building | Relevan untuk konsep agar kekayaan yang dihasilkan di suatu wilayah tetap berputar dan memberi manfaat bagi komunitas lokal. (OUP Academic) |
| 5 | Dennis, J. & Stanley, L. (2023). “The De-globalisation of Capital? The Political Economy of Community Wealth Building.” New Political Economy, 28(?) , 677–692. | Distribusi dan sirkulasi kekayaan lokal | Sangat berguna untuk konsep value capture dan bagaimana nilai ekonomi dapat dipertahankan di dalam komunitas. (Taylor & Francis Online) |
| 6 | Sarjiyanto, S., Sarwoto, S., Badaruddin, R.F. & Samsurijan, M.S. (2023). “Social Capital and Local Economic Development: The Key to Success and Sustainability of LED in Developing Countries.” International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding, 10(5). | Modal sosial dan pembangunan ekonomi lokal | Sangat relevan untuk menghubungkan kepercayaan, jaringan sosial, kerja sama, pemberdayaan, dan pembangunan ekonomi komunitas. (Ijmmu) |
| 7 | Suwanmaneepong et al. (2024). “Participatory Value Chain Development: Insights from Community-Based Enterprise in Rural Thailand.” | Value chain partisipatif dan community enterprise | Relevan langsung dengan analisis Anda tentang rantai nilai, penciptaan nilai, partisipasi masyarakat, dan distribusi manfaat. |
| 8 | “Local Incentive Structures and the Constitution of Community-Based Enterprises in the Forest.” World Development Perspectives, 20, 100243 (2020). | Community-based enterprise dan institusi lokal | Menunjukkan hubungan antara komunitas, usaha berbasis komunitas, dan dukungan negara dalam keberlangsungan ekonomi lokal. (ScienceDirect) |
| 9 | Nanda et al. (2025). “Social Innovation and Sustainable Value Creation: Lessons from Indonesia’s Community-Based Enterprises.” Information Management and Business Review, 17(4), 260–271. | Inovasi sosial dan penciptaan nilai | Sangat relevan karena mengambil kasus community-based enterprises di Indonesia dan menghubungkan inovasi sosial dengan penciptaan nilai berkelanjutan. (AMH International) |
| 10 | “Impact Creation Approaches of Community-Based Enterprises: A Configurational Analysis of Enabling Conditions.” Journal of Business Venturing, 39(6), 106420 (2024). | Kondisi yang memungkinkan CBE menghasilkan dampak | Berguna untuk menganalisis mengapa sebagian usaha berbasis komunitas mampu menghasilkan dampak ekonomi dan sosial bagi masyarakat. Penelitian menggunakan data dari 77 community-based enterprises. (ScienceDirect) |

















Tidak ada komentar:
Posting Komentar