1. Memahami konsep Multi-Barter Economy
Barter tradisional adalah pertukaran langsung antara dua pihak.
Misalnya:
Petani menukar beras dengan tukang jahit.
Tukang jahit menukar jasa menjahit dengan telur.
Peternak menukar telur dengan jasa perbaikan rumah.
Masalahnya, barter langsung membutuhkan double coincidence of wants: kedua pihak harus saling membutuhkan barang atau jasa yang ditawarkan.
Misalnya, petani membutuhkan jasa menjahit, tetapi tukang jahit tidak membutuhkan beras. Transaksi menjadi sulit dilakukan.
Multi-Barter mengatasi masalah tersebut melalui jaringan pertukaran multilateral.
Seseorang tidak harus menukar barangnya dengan orang yang langsung menerima barang tersebut. Ia dapat memberikan barang kepada anggota A, memperoleh kredit komunitas, kemudian menggunakan kredit itu untuk memperoleh barang dari anggota B.
Dengan demikian, terbentuk jaringan pertukaran yang lebih luas.
Perbedaan tiga sistem
Sistem | Mekanisme |
|---|---|
Barter bilateral | Barang A ditukar langsung dengan barang B |
Multi-Barter | Pertukaran melibatkan banyak anggota |
Mutual Credit | Nilai transaksi dicatat dalam sistem kredit bersama |
Multi-Barter dapat menggunakan unit hitung internal, misalnya 1 Community Credit (CC), untuk mencatat nilai transaksi.
CC bukan otomatis rupiah, bukan deposito bank, dan tidak harus menjadi mata uang yang dapat diperdagangkan.
2. Model yang sudah dikenal: LETS dan Mutual Credit System
Dalam literatur ekonomi alternatif, terdapat beberapa model yang sudah dipraktikkan dan diteliti.
A. Local Exchange Trading System (LETS)
LETS merupakan sistem pertukaran ekonomi berbasis komunitas. Anggota menawarkan barang atau jasa dan memperoleh saldo kredit komunitas ketika melakukan transaksi.
Contoh:
Petani menjual sayuran kepada anggota komunitas senilai 100 CC.
Petani memperoleh saldo +100 CC.
Tukang jahit menjahit pakaian petani senilai 50 CC.
Saldo petani menjadi +50 CC.
Tukang jahit menggunakan 50 CC untuk membeli telur dari peternak.
Sistem ini tidak membutuhkan pertukaran langsung antara petani dan peternak.
Karakteristik LETS:
Menggunakan unit hitung komunitas.
Transaksi dicatat dalam buku besar bersama.
Anggota dapat memiliki saldo positif maupun negatif.
Tidak memerlukan uang tunai untuk setiap transaksi.
Kepercayaan dan tata kelola komunitas menjadi fondasi.
Model LETS relevan untuk masyarakat yang mempunyai keterampilan dan kapasitas produksi, tetapi kekurangan uang tunai.
B. Mutual Credit System
Mutual Credit adalah sistem penciptaan daya beli melalui pencatatan kredit dan debit antaranggota.
Perbedaannya dengan kredit bank adalah bahwa kredit tidak harus berasal dari dana yang dipinjamkan oleh lembaga keuangan. Daya beli muncul ketika anggota melakukan transaksi dan sistem mencatat kewajiban serta hak antaranggota.
Contohnya:
Anggota | Transaksi | Saldo CC |
|---|---|---|
Petani | Menjual sayuran | +100 |
Tukang jahit | Membeli sayuran | -100 |
Tukang jahit | Menjual jasa | +80 |
Peternak | Membeli jasa jahit | -80 |
Peternak | Menjual telur | +80 |
Petani | Membeli telur | -80 |
Dalam contoh ini, saldo bersih sistem adalah nol:
Artinya, kredit positif seorang anggota diimbangi oleh posisi negatif anggota lainnya.
Anggota yang memiliki saldo negatif mempunyai kewajiban untuk memberikan barang atau jasa kepada komunitas di kemudian hari.
Hal penting: Mutual Credit bukan berarti semua orang mendapatkan barang secara gratis. Ini merupakan sistem pertukaran dengan kewajiban timbal balik.
C. Time Banking
Time Banking menggunakan waktu sebagai satuan pertukaran.
Misalnya:
Satu jam mengajar mendapatkan satu Time Credit.
Satu jam membantu lansia mendapatkan satu Time Credit.
Satu jam memperbaiki rumah mendapatkan satu Time Credit.
Time Credit dapat digunakan untuk memperoleh layanan anggota lain.
Keunggulan pendekatan ini adalah pekerjaan yang sering tidak dihargai pasar formal, seperti merawat anak, mendampingi lansia, dan membantu kegiatan komunitas, memperoleh pengakuan ekonomi.
Namun, satu jam kerja tidak selalu menghasilkan nilai pasar yang sama. Time Banking lebih cocok untuk layanan sosial dan pertukaran berbasis solidaritas daripada semua jenis perdagangan.
Berikut beberapa paper yang relevan untuk kajian literatur, termasuk penelitian yang dapat dijadikan landasan model disertasi.
Referensi utama
1. Seyfang, G. (2002).
Tackling Social Exclusion with Community Currencies: Learning from LETS to Time Banks.
International Journal of Community Currency Research, 6.
DOI: https://doi.org/10.15133/j.ijccr.2002.002
Relevansi:
Menghubungkan community currency dengan pengurangan eksklusi sosial.
Membahas Local Exchange Trading System dan Time Banking.
Sangat relevan untuk merancang ekonomi masyarakat yang tidak terjangkau sistem keuangan formal.
ijccr.net
2. Seyfang, G., & Longhurst, N. (2013).
Growing Green Money? Mapping Community Currencies for Sustainable Development.
Ecological Economics, 86, 65–77.
DOI: https://doi.org/10.1016/j.ecolecon.2012.11.003
Relevansi:
Pemetaan berbagai jenis mata uang komunitas.
Hubungan community currency dengan pembangunan berkelanjutan.
Peran ekonomi lokal dalam menciptakan modal sosial dan menghargai pekerjaan yang tidak terakomodasi pasar formal.
ScienceDirect+1
3. Schraven, J. (2001).
Mutual Credit Systems and the Commons Problem: Why Community Currency Systems such as LETS Need Not Collapse Under Opportunistic Behaviour.
International Journal of Community Currency Research, 5.
DOI: https://doi.org/10.15133/j.ijccr.2001.002
Relevansi:
Menjelaskan stabilitas Mutual Credit.
Risiko anggota menggunakan kredit tanpa memenuhi kewajibannya.
Prinsip kelembagaan untuk mencegah penyalahgunaan sistem.
ijccr.net
4. Kavčič, S. (2016).
The "Commodity–Money–Commodity" Mutual Credit Complementary Currency System.
International Journal of Community Currency Research, 20.
DOI: https://doi.org/10.15133/j.ijccr.2016.003
Relevansi:
Simulasi sistem pertukaran ekonomi komunitas.
Mekanisme penciptaan kredit bersama.
Pembahasan stabilitas dan pembatasan penggunaan kredit.
Sangat relevan untuk membangun model matematis Multi-Barter.
ijccr.net
5. Littera, G., Sartori, L., Dini, P., & Antoniadis, P. (2017).
From an Idea to a Scalable Working Model: Merging Economic Benefits with Social Values in Sardex.
International Journal of Community Currency Research, 21(1).
DOI: https://doi.org/10.15133/j.ijccr.2017.002
Relevansi:
Studi kasus sistem mutual credit Sardex.
Kepercayaan dan jaringan transaksi.
Integrasi manfaat ekonomi dan nilai sosial.
Model perluasan sistem pertukaran lokal.
ijccr.net
Referensi tambahan
6. Young, M. (2012).
A Two-Marketplace and Two-Currency System: A View on Business-to-Business Barter Exchange.
International Journal of Community Currency Research, 16(D).
DOI: https://doi.org/10.15133/j.ijccr.2012.021
Relevansi: Membahas sistem dua pasar dan dua mata uang, serta posisi barter credit sebagai mata uang sekunder yang melengkapi ekonomi nasional.
7. Fraňková, E., Fousek, J., Kala, L., & Labohý, J. (2014).
Transaction Network Analysis for Studying Local Exchange Trading Systems (LETS): Research Potentials and Limitations.
Ecological Economics, 107, 266–275.
DOI: https://doi.org/10.1016/j.ecolecon.2014.09.009
Relevansi: Menawarkan analisis jaringan transaksi untuk mengukur arus pertukaran, hubungan antaranggota, dan struktur jaringan ekonomi komunitas.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar